SOROT 403: Tergoda Kuah Khas Mi Kocok.
Syahrini hingga pejabat Istana jadi pelanggan setianya.
Mih Kocok Mang Dadeng, mie kocok legendaris di kota Bandung.
– Sore itu kota Bandung tepatnya Jalan Ahmad Dahlan terlihat lengang. Namun, sebuah kedai sederhana yang berdiri di pinggir jalan tersebut cukup mencuri perhatian.
Kedai nomor 67 tadi tampak mulai kedatangan sejumlah pengunjung. 'Mih Kocok Mang Dadeng', demikian bunyi tulisan yang terpampang besar-besar di bagian depannya.
Bagi yang belum tahu, Mih Kocok Mang Dadeng merupakan kedai mi kocok legendaris di Kota Kembang. Usaha ini telah dirintis sejak 1958 silam dan masih digemari hingga saat ini.
Jika Anda baru pertama kali singgah ke daerah satu ini, memang cukup sulit menemukan kedai tersebut. Meski berada di area strategis, dekat dengan Hotel Horison yang berada di Jalan Pelajar Pejuang, kedai Mih Kocok Mang Dadeng tampil tak terlalu mencolok dengan aksen kayu dan bambu meliputi seluruh bangunan.
Serupa dengan eksteriornya, bagian dalamnya juga terkesan sederhana. Hanya ada beberapa meja dan kursi serta area masak mi kocok yang dipenuhi dengan dandang-dandang besar berisi kuah kaldu panas.
Asap putih mengepul dari dalamnya. Terlihat pula mangkuk-mangkuk yang dipenuhi mi dan tauge yang menggunung. Seluruhnya berada di dalam gerobak yang tak lagi memiliki roda.
Saat melangkahkan kaki ke dalam kedai, aroma kikil dan bumbu pedas gurih pun tercium lembut di hidung.
Sekitar pukul 15.00 WIB, pelanggan mulai berdatangan. Namun, mereka lebih memilih untuk membawa pulang mi kocok ketimbang makan di tempat. Mungkin alasannya malas antre, lantaran kapasitas kedai yang hanya bisa menampung beberapa pelanggan.
Baca juga:
Mencicip Rujak Cingur Langganan Presiden
Rasa Tak Luntur Nasi Liwet Solo
Penasaran Rasa Manis Gudeg Yogya
Pukau Nasi Kapau
Mempertahankan Cita Rasa Autentik Mie Celor
Kapasitas Kedai Mih Kocok Mang Dadih hanya bisa menampung beberapa pelanggan.
Sang empunya kedai memang ogah pindah ke tempat lain yang lebih besar. Ia memilih untuk tetap menyewa bangunan milik DKM Masjid Jami Sukaresik yang ditempati kedainya itu.
"Kalau dari hitungan orang tua, ini tempat bawa hoki," kata Agus Tryana, karyawan senior Mih Kocok Mang Dadeng saat ditemui di kedai tersebut beberapa waktu lalu.
Menurut pria yang akrab disapa Openg itu, usaha mi kocok yang namanya sudah terdengar hingga ke luar Indonesia ini berdiri secara turun-temurun hingga tiga generasi dimulai dari Usman, ayah Dadeng. Usman lah yang pertama kali memiliki gagasan untuk berjualan mi kocok keliling menggunakan tanggungan (pikulan).
Kala itu, Usman hanya berjualan dengan cara berkeliling sejauh satu kilometer. Bermodalkan tekad yang besar, usahanya itu terus ia jalani dan mengalami peningkatan di tahun 1965.
Lama kelamaan, mi kocoknya pun dijajakan menggunakan tiga gerobak dibantu ketiga anaknya yakni Dadeng, Wawan, dan Omat. Karena semakin laris dan dicari pembeli, mereka beralih menggunakan jongko (warung kecil) kaki lima dan mendapat dukungan aktif oleh anak kedua Dadeng, Dani. Jongko menjadi cara berjualan terakhir sebelum usaha itu mengambil tempat yang menjadi lokasinya saat ini di Jalan Ahmad Dahlan.
"Pakai tanggung, lama kelamaan ada kemajuan lalu pakai tiga gerobak dan diikuti tiga anaknya yaitu Pak Dadeng, Pak Wawan, dan Pak Omat. Sampai sekarang berdiri dan dikelola sama anaknya Pak Dadeng (alm) sebanyak tujuh orang," ujar Agus.
Hingga saat ini anak keempat Dadeng masih turun langsung mengurus usaha tersebut. Ia bertanggung jawab atas manajemen dan produksi pengemasan.
Selanjutnya, Ditawari Buka Cabang di Luar Negeri
Source: sorot.news.viva.co.id
Image credited to sorot.news.viva.co.id and media.viva.co.id
